Oktober 22, 2020

Select your Top Menu from wp menus
papumashop

Maritim Indonesia yang kuat masih perlu waktu yang panjang

Britama.com – Presiden Indonesia Joko Widodo dalam upacara pelantikannya berkali-kali menekankan bahwa laut adalah masa depan Indonesia. Ini mencerminkan tekadnya untuk mengembangkan Indonesia menjadi “negara maritim yang kuat”. Hal ini juga telah menjadi strategi baru Indonesia. Mengenai hal tersebut, wartawan Harian Renminribao Tiongkok baru-baru ini mengadakan wawancara dengan pakar terkait Singapura, Amirya Adi, yang mengatakan bahwa perjalanan Indonesia menjadi negara maritim yang kuat tidak lancar.

Indonesia menduduki tempat penting jalur maritim, antara lain, Selat Melaka, Selat Sunda dan Selat Lombok, di mana terdapat lebih dari 50 persen suplai minyak bumi dunia, dan 1/3 kapal pengangkutan laut perlu melalui Selat Melaka dan Singapura.

Titik berat strategi “negara maritim kuat” Presiden Joko Widodo ialah, di bidang domestik, menjamin kesejahteraan nelayan, menindak perikanan ilegal dan bajak laut, melindungi hak dan kepentingan maritim negara, meningkatkan interkonektivitas maritim agar mendorong perkembangan seimbang ekonomi berbagai tempat Indonesia. Sedangkan di bidang luar negeri, Indonesia akan memainan peran yang lebih penting di Samudera Hindia dan Pasifik, dengan aktif mendorong penyelesaian perselisihan wilayah maritim, meningkatkan diplomasi dengan negara-negara berkembang, agar menjadikan Indonesia sebagai negara penting yang memelihara kestabilan dan perdamaian kawasan serta mendorong perkembangan kemakmuran.

Namun di lingkungan dalam maupun luar, Indonesia menghadapi banyak tantangan, perjalanannya untuk menjadi “negara maritim kuat” tidak lancar. Pertama, federasi partai-partai oposisi yang kuat akan menjadi tantangan pemerintah Joko Widodo.

Kedua, laju pertumbuhan ekonomi merosot dan infrastruktur yang ketinggalan menjadi titik lemah perkembangan. Terdampak penurunan pengeksporan, merosotnya pertumbuhan investasi dan faktor-faktor lainnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum cukup kuat, keseimbangan perdagangan saat ini menghadapi tekanan yang sangat besar, pasar saham pun terus berubah. Selain itu, macetnya lalu lintas, kekurangan tenaga lisrik dan masalah-masalah infrastruktur lainnya pun memberi banyak kesulitan terhadap kehidupan rakyat, kesenjangan kemiskinan dengan kekayaan terus meningkat dan lain sebagainya telah meletakkan bahaya tersembunyi bagi ketenteraman masyarakat. Bagaimana mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang cepat, stabil dan seimbang telah menjadi tugas yang paling penting pemerintah baru sekarang.

Dari luar, ambisi Presiden Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia sebagai “negara poros maritim global” juga menghadapi dua tantangan dari Samudera Pasifik dan Hindia. Selain itu, sejumlah negara telah mulai khawatir atas strategi Indonesia untuk menjadi “negara maritim yang kuat”. Mereka berpendapat bahwa Indonesia berupaya menjadi negara militer yang kuat di kawasan ini, akan mengancam perdamaian regional. Berkenaan dengan itu, pihak Indonesia menyatakan, bahwa titik berat strategi tersebut ialah ekonomi, sama sekali tidak akan mengubah jalan perkembangan yang damai sebelumnya.

Related posts