September 18, 2021

Select your Top Menu from wp menus
papumashop

Persaingan kereta api cepat antara Tiongkok dan Jepang

Britama.com – Tiongkok dan Jepang bersaing membangun rel kecepatan tinggi dari Jakarta ke Bandung, penanggungjawab terkait pemerintah Indonesia mengumumkan akan mengundang lembaga konsultasi internasional pihak ketiga untuk menilai rancangan Tiongkok dan Jepang, pemerintah Indonesia dan Presiden Joko Widodo akan memutuskan bekerja dengan siapa menurut hasil penilaiannya.

Rencana yang diajukan Indonesia kali ini ialah projek rel kecepatan tinggi dari Ibukota Jakarta ke Bandung, panjangnya sekitar 150 km. projek ini akan memperpendek waktu perjalanan 2-3 jam lewat jalan tol menjadi 36 menit dengan kereta api kecepatan tinggi. Pemerintah Indonesia sangat mementingkan projek tersebut dan telah mengadakan serangkaian persiapan sebelumnya.

Meskipun tetap ada media domestik Indonesia yang bersikap negatif pada projek tersebut, namun beranekaragaman kecurigaan dan kritik tidak akan menghalangi ketekadan pemerintah Indonesia untuk membangun rel kecepatan tinggi.

Persaingan di antara Tiongkok dan Jepang, siapa lebih unggul?

Pertama, Jepang cukup berupaya pada projek rel kecepatan tinggi ini, jauh apda tahun 2011, Perusahaan terkait Jepang telah mengadakan penelitian kelayakan pada rel kecepatan tinggi Jakarta-Bandung.

Kunjungan Utusan Khusus PM Jepang ke Indonesia pada tahun ini mempromosikan “Shinkansen” Jepang, dan menyerahkan rancangan pembangunan dan pendanaan yang rinci kepada Presiden Joko Widodo. Sedangkan menurut rencana, Tiongkok menyerahkan laporan kelayakan kepada pemerintah Indonesia sebelum 20, Juli lalu, melambat 4 tahun daripada Jepang. Selain itu, citra merek produk-produk Jepang agak positif di Indonesia, dan projek MRT yang sedang dalam proses pembangunan di Indonesia juga diinvestasi oleh Jepang.

Namun, teknik pembangunan dan pengalaman operasi rel kecepatan tinggi tidak kalah dari Jepang. Hingga kini, jarak operasi rel kecepatan tinggi Tiongkok telah mencapai 16 ribu km, dan menduduki 60 persen jarak operasi seluruh dunia.

Dibandingkan dengan Jepang, keunggulan Tiongkok dalam projek ini tidak hanya berkualitas tinggi dan dengan harga yang murah, tapi juga dapat menyediakan kredit preferensi kepada pemerintah Indonesia, dan bersedia mengadakan kerja sama di bidang operasi dengan Indonesia pada masa depan.

Related posts