November 28, 2020

Select your Top Menu from wp menus
papumashop

Laba bersih GIAA / Garuda Indonesia anjlok 91,05% pada Q1 2016

Britama.com – Emiten penerbang terbesar yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemerintah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membukukan kinerja yang kurang bagus dengan laba bersih hanya sebesar USD1,02 juta atau USD0,00004 per saham bila dibandingkan dengan Laba bersih yang dialami pada Q1 2015 yaitu USD11,40 juta atau USD0,000442 per saham.

Penurunan kinerja Perseroan didukung oleh penurunan pendapatan GIAA pada Q1 2016 sebesar 7,69% menjadi USD855,99 juta dari pendapatan pada periode yang sama tahun 2015 yaitu sebesar USD927,33 juta, berikut ini adalah rincian Pendapatan pokok GIAA pada Q1 2016 dan Q1 2015 yaitu

  1. Penerbangan berjadwal – USD752,00 juta dan USD805,48 juta.
    • Penumpang – USD700,04 juta dan USD753,53 juta.
    • Kargo – USD47,00 juta dan USD47,79 juta.
    • Kelebihan bagasi – USD2,69 juta dan USD2,20 juta.
    • Surat dan dokumen – USD2,28 juta dan USD1,95 juta.
  2. Penerbangan tidak berjadwal – USD16,73 juta dan USD39,20 juta.
  3. Lainnya (Jasa Bogam, Maintenance, hotel dan lainnya) – USD87,25 juta dan USD82,64 juta.

Beban usaha perseroan mengalami penurunan dari USD916,74 juga menjadi USD849,55 juta, dan Pendapatan (Beban) mengalami penurunan dari USD(20,11) juta menjadi USD(9,40) juta, Sedangkan Beban Keuangan perseroan mengalami kenaikan dari USD15,03 juta menjadi USD18,53 juga.

Hingga akhir Maret 2016, GIAA memiliki aset sebesar USD3,39 miliar, naik 2,42% dari Aset tahun 2015 yaitu sebesar USD3,31 miliar. Utang Perseroan mengalami peningkatan dari USD2,36 miliar menjadi USD2,42 miliar.

Sebagai catatan, Garuda Indonesia telah merealisasikan belanja modal sebesar USD116,83 juta pada akhir Maret 2016 (Q1 2016), meningkat dari USD109,27 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Belanja modal yang telah direalisasikan pada Q1 2016 yaitu sebagain besar untuk pemeliharaan pesawat yaitu sebesar USD93,30 juta, selain itu uang muka untuk pembelian pesawat senilai USD6,61 juta (Pembelian 50 unit pesawat 738-800 Max, dan jadwal pengiriman dari tahun 2017 sampai 2023), dan sisanya yaitu pembelian Aset tetap, uang jaminan dan uang muka untuk pembelian aset tetap.

Related posts