Oktober 25, 2020

Select your Top Menu from wp menus
papumashop

Kredit BTPN / Bank Tabungan Pensiunan Nasional pada Semester I 2016 tumbuh 11%

Britama.com – Berdasarkan informasi yang diberikan oleh Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) Hingga akhir Juni 2016, penyaluran kredit BTPN telah mencapai Rp61,6 triliun, tumbuh 11% (year on year/yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp55,7 triliun. Pencapaian ini diatas rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan dan masih dalam rentang target yang diharapkan regulator.

Pertumbuhan kredit dimotori oleh penyaluran dana ke segmen UMKM dan masyarakat prasejahtera produktif. Hingga akhir Juni 2016, kredit UMKM, termasuk pembiayaan prasejahtera produktif yang disalurkan melalui BTPN Syariah, mencapai Rp20,8 triliun atau meningkat 16% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp18 triliun.

Sementara itu, untuk segmen kredit lainnya naik 9% menjadi Rp39,3 triliun. Kenaikan penyaluran kredit tetap diimbangi dengan asas kehati-hatian yang tercermin dari tingkat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di 0,7% (gross), atau salah satu yang terbaik di tanah air.“Pertumbuhan kredit sebesar 11% dengan NPL terjaga di 0,7% menunjukkan kami masih ekspansif dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian,” ungkap Jerry.

NPL rendah juga tidak lepas dari upaya BTPN melakukan pendampingan dan pemberdayaan terhadap nasabah melalui Program Daya. BTPN meyakini, nasabah mass market tidak hanya membutuhkan kecepatan dan kemudahan memperoleh pinjaman, juga memerlukan pendampingan secara terus menerus.

Selama kurun Januari 2016 – Juni 2016, BTPN telah menyelenggarakan 110.581 pelatihan daya dengan jumlah peserta sebanyak 791.065 nasabah. Untuk mengoptimalkan fungsi intermediasi sekaligus menciptakan efisiensi, BTPN terus menyeimbangkan kecukupan likuiditas dengan laju kredit.

Per 30 Juni 2016, total pendanaan (funding) meningkat 7% (yoy) menjadi Rp69,6 triliun. Dari jumlah tersebut, komposisi dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp65,3 triliun atau tumbuh 14% dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp57,1 triliun. Sedangkan pinjaman bilateral dan obligasi mencapai Rp4,2 triliun.

“Beberapa obligasi dan pinjaman sudah jatuh tempo, sehingga porsi pendanaan dari non-DPK semakin berkurang. Namun demikian, rasio likuiditas (loan to deposit ratio/LDR) kami tetap terjaga di level 94%. Jika memperhitungkan pinjaman pihak lain dan equity, rasio likuiditas berada di level 73%, sangat sehat dan kuat,” lanjut Jerry.

Upaya menyeimbangkan kecukupan likuiditas dengan laju kredit secara tidak langsung berdampak ke cost of fund (biaya dana). Hingga akhir Semester I-2016, beban bunga BTPN susut 4%(yoy) menjadi Rp2,5 triliun. Sedangkan pendapatan bunga tumbuh stabil di kisaran 7% (yoy). Kombinasi ekspansi kredit baru dan efisiensi biaya dana ini mengerek pendapatan operasional 12% (yoy) menjadi Rp4,6 triliun.

Saat ini BTPN memiliki produk layanan BTPN Wow! untuk melayani segmen mass market dan masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan. BTPN Wow! merupakan brand BTPN untuk program Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) yang digagas Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Layanan perbankan ini sangat praktis dan terjangkau, dengan memanfaatkan teknologi telepon genggam dan didukung jasa agen sebagai perpanjangan tangan bank. Sejak diluncurkan pada Maret 2015 hingga Juni 2016, total agen BTPN Wow! mencapai lebih dari 35.000 agen dengan jumlah nasabah hampir mencapai 700.000 orang.

Jerry mengatakan: “Data ini menunjukkan tingginya minat menabung dan antusiasme masyarakat kecil terhadap layanan perbankan berbasis teknologi. Dalam waktu dekat kami juga sedang ekspansi ke ranah digital agar dapat memenuhi kebutuhan nasabah yang semakin kompleks di segmen yang lebih luas,”.

Untuk mengembangkan infrastruktur BTPN Wow! dan layanan digital, BTPN terus meningkatkan nilai investasi. Selama enam bulan pertama tahun ini, BTPN telah mengalokasikan dana Rp195 miliar, atau melonjak 359% dibandingkan nilai investasi pada periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut juga sudah melampaui nilai investasi sepanjang 2015 yang mencapai Rp184 miliar.

“Biaya operasional kami tentu meningkat. Tetapi kami yakin investasi ini akan memberikan dampak yang signifikan bagi bisnis kami di masa mendatang,” lanjut Jerry.

Dengan berbagai strategi tersebut, hingga akhir Juni 2016, BTPN mencatat kenaikan aset sebesar 9% (yoy), dari Rp79,5 triliun menjadi Rp86,7 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) terjaga di level 24%. Laba bersih sebelum pajak (NPBT) senilai Rp1,3 triliun, tumbuh 2% (yoy). “Jika tidak memperhitungkan investasi baru, laba kami sejatinya tumbuh lebih tinggi. Kami optimistis, ke depan BTPN akan lebih baik lagi,” tutup Jerry.

Related posts