November 26, 2020

Select your Top Menu from wp menus
papumashop

Laba bersih Bank Central Asia / BCA tumbuh 13,2% pada Q3 2016

Britama.com – PT Bank Central Asia Tbk “BCA” (BBCA) dan entitas anak melaporkan kinerja keuangan konsolidasi sepanjang sembilan bulan pertama yang berakhir pada 30 September 2016. Laba bersih meningkat 13,2% menjadi Rp15,1 triliun dari Rp13,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan operasional yang terdiri dari pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya tumbuh 15,2% menjadi Rp39,7 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2016, dibandingkan Rp34,4 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2015.

Presiden Direktur BCA, Bapak Jahja Setiaatmadja, menyampaikan, “Di tengah pertumbuhan ekonomi yang moderat dan masih lemahnya aktivitas bisnis, BCA menutup periode sembilan bulan pertama tahun 2016 dengan peningkatan pendapatan operasional yang sehat. Pencapaian tersebut didukung oleh pertumbuhan berkelanjutan dari dana pihak ketiga dan keseluruhan aset produktif disertai penerapan prinsip kehati-hatian dengan mengutamakan pentingnya kualitas aset.”

Outstanding portofolio kredit mencapai Rp386,1 triliun pada akhir September 2016, naik 5,8% YoY. Kredit konsumer tercatat sebesar Rp106,4 triliun, meningkat 8,1% YoY. Di dalam portofolio kredit konsumer, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tumbuh sebesar 7,3% YoY menjadi Rp62,2 triliun, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) meningkat 9,5% YoY menjadi Rp34,6 triliun dan kartu kredit naik 8,6% YoY menjadi Rp9,7 triliun. Kredit korporasi mencapai Rp133,3 triliun, naik 5,7% dibandingkan posisi yang sama tahun 2015, sementara kredit komersial & UKM tercatat sebesar Rp146,5 triliun, meningkat 4,4% YoY.

Di tengah perlambatan ekonomi, rasio kredit bermasalah (NPL) BCA meningkat menjadi 1,5% pada akhir September 2016, dibandingkan 0,7% pada akhir September 2015. Rasio NPL tersebut tetap stabil apabila dibandingkan triwulan sebelumnya. Dalam sembilan bulan pertama tahun 2016, BCA membentuk tambahan biaya cadangan sebesar Rp3,1 triliun untuk mempertahankan kecukupan cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan, sehingga rasio cadangan terhadap total kredit bermasalah mencapai 201,0%. Di sisi likuiditas dan basis permodalan, BCA mempertahankan posisi yang solid dengan rasio kredit terhadap pendanaan (LFR) mencapai 77,3% dan rasio kecukupan modal (CAR) tercatat sebesar 21,5%.

Dana pihak ketiga meningkat 6,7% YoY menjadi Rp493,1 triliun pada akhir September 2016, ditopang oleh pertumbuhan rekening giro dan tabungan (CASA) yang berkontribusi sebesar 78,2% terhadap total. Dana CASA tumbuh Rp31,7 triliun atau 8,9% YoY menjadi Rp385,4 triliun pada akhir periode pelaporan. Di dalam komposisi CASA, dana giro tumbuh 10,0% YoY menjadi Rp126,2 triliun, sedangkan dana tabungan meningkat 8,4% YoY menjadi Rp259,2 triliun. Dana deposito tetap stabil sebesar Rp107,7 triliun.

“Memasuki akhir tahun, BCA akan tetap fokus dalam mengelola aset dan liabilitas secara aktif sekaligus mengedepankan efisiensi operasional guna mencapai hasil kinerja positif yang berkelanjutan. Di tengah situasi yang penuh tantangan, penyediaan produk dan layanan yang berkualitas merupakan dasar utama dalam mempertahankan kepercayaan nasabah. Kebijakan tax amnesty Pemerintah telah mendapatkan respon yang positif dan kami percaya bahwa kebijakan tersebut akan memberikan pengaruh positif terhadap ekonomi Indonesia kedepannya,” tutur Bapak Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA.

Related posts