November 29, 2020

Select your Top Menu from wp menus
papumashop

Laba bersih DSNG anjlok 84,55% pada Q3 2016

Britama.com – PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mencatat penjualan bersih Q3 tahun 2016 sebesar Rp2,64 triliun. Dibandingkan dengan Q3 tahun lalu, penjualan bersih tersebut turun 19,9% akibat turunnya produksi CPO Perseroan sebagai dampak lanjutan El-Nino yang terjadi belum lama ini. Seiring penurunan penjualan, Laba bersih DSNG juga mengalami penurunan dari Rp111,87 miliar (Rp10,55 per saham) menjadi Rp17,28 miliar (Rp1,63 per saham) atau turun 84,55%.

Tandan Buah Segar (TBS) yang dipanen DSNG selama sembilan bulan pertama tahun ini hanya mencapai 714 ribu ton, turun sekitar 32,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Turunnya produksi TBS, baik inti maupun plasma serta rendahnya pembelian TBS dari pihak ketiga ikut mempengaruhi produktivitas pabrik kelapa sawit Persreoan.

Jumlah TBS yang diproses Perseroan hanya sekitar 857,1 ribu ton, turun sekitar 30,1% dibandingkan Q3 tahun 2015 lalu. Akibatnya, produksi CPO Perseroan pada Q3 2016 juga turun sekitar 27,6% menjadi 206,9 ribu ton dibandingkan periode yang sama tahun 2015 lalu yang mencapai 285,9 ribu ton.

Meskipun demikian, selama Sembilan bulan pertama tahun 2016, Perseroan berhasil memperbaiki tingkat ekstraksi minyak sawit (Oil Extractrion Rate) pada lelvel 24,14% dibandingkan periode yang sama tahunm lalu sebesar 23,32%.

Penurunan penjualan bersih tersebut ikut merefleksikan profitabilitas Perseroan. Laba kotor Perseroan turun sekitar 28,3% menjadi Rp563,6 miliar, dengan margin laba kotor sekitar 21,3%. Sedangkan laba usaha juga turun sekitar 48,7% menjadi Rp220,7 miliar. Pada Q3 2016, Perseroan membukukan laba komprehensif Periode berjalan sebesar Rp24,8 miliar.

Direktur Utama Perseroan Andrianto Oetomo mengatakan turunnya produktivitas TBS tersebut sebagai akibat dampak El-Nino pada tahun 2015 lalu yang masih terasa sampai Q3 tahun ini.

Harga rata-rata CPO Perseroan dalam sembilan bulan pertama 2016 mencapai Rp7,26 juta per ton, tidak jauh berbeda dibandingkan dengan harga rata-rata CPO di periode yang sama 2015 yang mencapai Rp7,27 juta per ton.

Industri kelapa sawit masih memberikan kontribusi pendapatan paling tinggi untuk Perseroan dibandingkan produk kayu. Pada Q3 tahun ini Perseroan membukukan penjualan bersih untuk industri kelapa sawit sebesar Rp1,89 triliun atau turun sekitar 15,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan penjualan bersih industri kayu turun sebesar29,5 % menjadi Rp754,8 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sampai dengan September 2016, Perseroan berhasil memperbaiki tingkat ekstraksi minyak sawit (Oil Extraction Rate-OER) menjadi 24,14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 23,32 %. Untuk industri produk kayu, kinerja Perseroan selama sembilan pertama tahun ini masih dipengaruhi oleh turunnya permintaan produk panel yang diikuti pula dengan turunnya harga engineered door dan engineered floor.

Volume ekspor panel Perseroan turun 49,5% menjadi 73,4 ribu m3, meskipun harga rata-rata panel mengalami kenaikan sekitar 4,1%. Volume ekspor engineered door dan engineered floor, naik masing-masing sebesar 8.0% dan 14,2%. Namun masih belum membaiknya ekonomi negara tujuan ekspor dan persaingan yang ketat dari negara lain menyebabkan harga rata-rata kedua produk tersebut turun masing-masing sekitar 22,8% dan 9,2%.

Related posts