September 23, 2018

Select your Top Menu from wp menus

CAFTA dan Ekonomi ASEAN saling mengisi

Harian Renminribao Tiongkok hari ini (28/11) menurunkan artikel tentang pembangunan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dalam mana dikatakan, pemimpin negara-negara ASEAN menetapkan batas waktu terakhir pembangunan Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) pada tanggal 31 Desember 2015. Sehubungan dengan itu, pakar di Tiongkok dan ASEAN menyatakan, AEC begitu terbentuk akan saling mengisi dan berintegrasi dengan kawasan perdagangan bebas Tiongkok-ASEAN (CAFTA), dan menjadi pasar yang lebih besar.

Dalam beberapa tahun yang lalu, biaya tenaga kerja di Tiongkok mengalami kenaikan sehingga perusahaan-perusahaan pakaian dan alas kaki terpaksa merelokasi pabriknya ke Asia Tenggara, sejumlah negara ASEAN juga mulai menggantikan Tiongkok menjadi “pabrik pengolah” bermerek. Setelah Nike menutup satu-satunya pabrik sepatunya di Tiongkok pada tahun 2009, Adidas juga berencana merelokasi satu-satunya pabriknya yang terletak di kota Suzhou ke Myanmar. Harian “The Nation” Thailand dalam laporannya belum lama berselang menyatakan, perusahaan otomotif Swedia, Volvo, juga akan memindahkan pabriknya dari Tiongkok ke Thailand untuk menghemat biaya. Electrolus, perusahaan alat-alat listrik yang kantor pusatnya di Swedia juga mendirikan pabrik lemaris es di Thailand.

Profesor Muda Gu Qingyang dari The Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, berpendapat, antara struktur industri Tiongkok dan negara-negara ASEAN terdapat persamaan tertentu, khususnya di sektor pakaian, alas kaki dan topi, otomotif, serta komponen elektronik, Tiongkok dan sejumlah negara ASEAN berada pada tahap perkembangan yang hampir sama sehingga persaingan lebih besar daripada saling mengisi. Setelah Komunis Ekonomi ASEAN (AEC) terbentuk, perusahaan modal asing barangkali akan mempercepat langkahnya untuk menarik diri dari Tiongkok.”

Namun pakar tersebut menganggap hal itu ada segi positifnya. Menurut pendapatnya, Tiongkok dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk merelokasi industri manufaktur segmen rendah ke Asia Tenggara, mempercepat penelitian dan pengembangan teknologi tinggi, terus memperlebar kesenjangan industri manufaktur Tiongkok dan ASEAN agar mencapai taraf yang berada di antara industri manufaktur segmen tinggi Jepang, Korea Selatan dan industri manufaktur segmen rendah ASEAN dalam rangka meletakkan dasar yang lebih kokoh untuk naik ke segmen yang lebih tinggi.

Sejumlah pakar menyatakan, perusahaan Tiongkok dapat memanfaatkan dengan baik perbedaan yang ada di sektor industri negara-negara ASEAN. Berdasarkan keunggulan relatif industri manufaktur masing-masing negara ASEAN, perusahaan Tiongkok dapat mendirikan basis produksi dan pusat pelayanan yang berbeda di negara-negara ASEAN. Misalnya, mendirikan basis produksi makanan atau pertanian di Thailand, dan pabrik otomotif di Indonesia, sedang produknya dapat dipasarkan ke seluruh ASEAN. Perusahaan-perusahaan Jepang dan Korea Selatan kini sudah bertindak lebih cepat daripada perusahaan Tiongkok, maka perusahaan Tiongkok perlu menangkap peluang mempercepat pengaturannya di ASEAN untuk merealisasi perkembangan bersama dengan memanfaatkan pasar yang besar setelah terbentuknya Komunitas Ekonomi ASEAN.(Sumber CRI)

Related posts