Maret 03, 2021

Select your Top Menu from wp menus
papumashop

Ekonomi Timor Leste hadapi tantangan berat

Pasukan Perdamaian PBB (UNMIT) telah mengakhiri tugas pemeliharaan perdamaiannya di Timor Leste pada akhir tahun 2012, dan menyerahkan tugas penjagaan keamanan negeri itu kepada polisi setempat, sehingga Timor Leste yang telah berada dalam perlindungan PBB selama 13 tahun akhirnya mulai berdiri sendiri.

Dewasa ini, tantangan paling berat yang dihadapi oleh pemerintah Timor Leste yaitu pembangunan kembali ekonomi, mengurangi ketergantungan pada eskpor minyak, dan menanggulangi kemiskinan. Belum lama ini, pemerintah Timor Leste yang dipimpin oleh Perdana Menteri Xanana Gusmao mengeluarkan program pembangunan 20 tahun untuk membangun Timor Leste sebagai negara pertanian, dengan target menjadi ekonomi berpenghasilan menengah yang menitikberatkan pada ekspor tumbuhan yang bernilai ekonomi, peternakan dan minyak jadi.

Menurut statistik, lebih dari 80% pendapatan negara Timor Leste dewasa ini berasal dari pendapatan minyak bumi. Untuk itu, pemerintah Timor Leste bertekad mengurangi proporsi pendapatan minyak bumi dalam pendapatan negara menjadi 66%, yaitu sekitar US$1,2 miliar.

Dana Moneter Internasional (IMF) pernah menyebutkan Timor Leste sebagai “ekonomi yang paling mengandalkan minyak bumi di seluruh dunia”. Timor Leste sama sekali tidak menghasilkan produk apapun selain kopi. Itupun hanya mencapai nilai produksi sebesar US$15 juta pertahun.

Dalam program barunya, pemerintah Timor Leste akan menanam pohon sawit, vanila, pohon tung dan tumbuhan yang bernilai ekonomi lainnya dalam jumlah besar. Ini dimaksudkan untuk mendorong perkebunan sebagai industri terbesar kedua di Timor Leste guna mengurangi tingkat pengangguran dan menjamin ketersediaan bahan pangan. Hingga saat ini ini, hampir semua buah-buahan dan sayur-mayur di Timor Leste merupakan produk impor.

Related posts