Januari 16, 2021

Select your Top Menu from wp menus
papumashop

Target pertumbuhan Ekonomi Indonesia sebesasr 6,3% akan sulit tercapai

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengakui jika tidak mudah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen yang telah tertuang dalam APBN 2013 seiring dengan adanya perubahan kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang berpengaruh pada perekonomian dunia.

Hal itu disampaikan oleh Presiden Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta hari ini (21/8), dalam penjelasannya kepada publik terkait perkembangan perekonomian dalam negeri.

Yudhoyono menyatakan, saat dulu menetapkan pertumbuhan 6,3 persen, pemerintah bersama DPR RI dan itu tertuang dalam APBN tahun 2013, belum ada kebijakan yang ada di Amerika Serikat yang berpengaruh kepada dunia dan sejumlah perkembangan baru di bidang perekonomian. Oleh karena itu dia katakan dengan jujur untuk capai 6,3 persen berat untuk Indonesia.

Namun, Presiden tetap berharap agar pertumbuhan ekonomi tidak mengalami perlambatan yang tajam apalagi sampai jatuh.

Yudhoyono menyatakan, Indonesia harus bekerja sangat keras. Dan dia mengajak semua pihak, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, semua untuk bekerja sekuat tenaga andai kata ada penurunan ekonomi Indoensia, penurunannya tidak sangat tajam.

Pada kesempatan itu Presiden juga mengatakan jika 2013 adalah tahun yang tidak mudah bagi perekonomian Indonesia dan kawasan Asia.

Dia menyebut, tahun 2014 ekonomi Indonesia juga akan masih menghadapi tantangan-tantangan yang tidak bisa kita abaikan.

Ia kemudian menyebut pelemahan nilai tukar rupiah yang cukup signifikan dan penurunan harga saham sebagai sejumlah tantangan baru yang harus dihadapi.

Yudhoyono menjelaskan jika tantangan terhadap perekonomian domestik itu disebabkan oleh dua faktor yaitu dari luar dan dalam negeri.

Faktor pertama, adalah yang sifatnya global dan regional, yaitu penetapan kebijakan moneter di Amerika Serikat yang berpengaruh kepada situasi keuangan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Faktor kedua, adalah yang sifatnya internal yaitu antara lain penurunan ekspor karena perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia di saat impor barang tetap tinggi sehingga neraca perdagangan dan pembayaran menjadi tidak baik.

Menurut Presiden Yudhoyono, kondisi itu memicu kekhawatiran pasar kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun secara tajam dan tidak ada solusi.

Namun Presiden Yudhoyono menegaskan bahwa pemerintah Indonesia telah bekerja sejak setelah peringatan 17 Agustus untuk mengatasi hal tersebut.

Related posts