Oktober 14, 2019

Select your Top Menu from wp menus
papumashop

Nasib BUMI? Operator Energi Kelas Dunia dengan Modal Hutang

britama.com, Cerita, Bumi Resources Tbk (BUMI) kita mulai dari masuknya PT Bakrie Capital Indonesia menjadi pemegang saham BUMI. Pada tahun 1997, PT Bakrie Capital Indonesia mengambil alih saham-saham yang dimiliki Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 (“AJB Bumiputera”) sejumlah 26.328.600 saham atau sama dengan 58,51% dari total saham yang dikeluarkan BUMI saat itu. Setahun kemudian bidang usaha BUMI pun diubah dari di bidang perhotelan dan pariwisata menjadi perusahaan investasi di bidang minyak, gas alam dan pertambangan. Kemudian pada tertanggal 20 September 2000 nama perusahaan pun diubah dari Bumi Modern Tbk menjadi Bumi Resources Tbk.

Setelah melakukan perubahan bidang usaha dan nama perusahaan, BUMI mulai aktif melakukan ekpansi usaha melalui akuisisi perusahaan yang bergerak di bidang minyak, gas alam, batubara dan pertambangan lainnya. Gallo Oil (Jersey), Ltd. menjadi perusahaan energi pertama yang diakuisisi oleh BUMI (2000), di tahun 2001 BUMI mengakuisisi 80% dan 19,99% (April 2004) saham PT Arutmin Indonesia, kemudian di tahun 2003 BUMI mengakuisisi PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan Kalimantan Coal Limited (KCL) sebagai langkah lebih lanjut dalam melakukan ekspansi usaha. Alhasil, setelah akuisisi KPC, BUMI menjadi perusahaan produsen batubara terbesar di Indonesia dan eksportir batubara thermal terbesar di dunia yang memasok sekitar 8% batubara thermal di pasar internasional pada tahun 2004.

Setelah itu, akuisisi beralih ke anak usaha yakni Calipso Investment Pte. Ltd dan PT Bumi Resources Investment. Melalui Calipso Investment Pte. Ltd, BUMI mengakuisisi Herald Resources Ltd (2008) dan melalui PT Bumi Resources Investment, BUMI mengakuisisi PT Green Resources, Leap Forward Finance Ltd (secara tidak langsung memiliki PT Fajar Bumi Sakti), Pendopo Coal Ltd (secara tidak langsung memiliki PT Pendopo Energi Batubara), dan Zurich Assets International Ltd (secara tidak langsung memiliki saham Darma Henwa Tbk (DEWA)).

Sayangnya akuisisi ini kebanyakan menggunakan hutang, awalnya tidak adalah masalah dalam hutang ini karena ditunjang dengan kinclongnya harga batubara. Masalah mulai muncul ditahun 2008, dimana terjadi krisis ekonomi global terutama di negara-negara maju sehingga menekan harga komoditi. Kemudian di tahun 2009 BUMI terpaksa melakukan restrukturisasi utang dengan pinjaman dari China Investment Corporation (CIC) melalui Country Forest Limited (anak usaha CIC) sebesar US$1,9 miliar (US$600 juta telah dibayar tahun 2013, US$600 juta jatuh tempo di tahun 2014, dan sisanya US$700 juta jatuh tempo di tahun 2015.) yang memiliki 12% cash coupon per tahun dengan total IRR of 19%.

Laporan Keuangan BUMI dari tahun 2005 sampai dengan Jun-2014Data Laporan Keuangan BUMI

Setelah restrukturisasi tahun 2009 BUMI berhasil melewati krisis yang terjadi pada tahun 2008, karena dipertengahan 2009 harga batubara kembali naik dan pada awal tahun 2010 harga batubara berhasil tembus diatas 100 per metrik ton serta bertahan diatas 100 hingga pertengahan 2012.

Pada pertengahan tahun 2012, krisis kembali datang menerpa BUMI yang disebabkan kembali turunnya harga batubara, tingginya beban keuangan dan mengalami rugi kurs serta rugi transaksi derivatif. Alhasil, dalam 2 tahun BUMI mengalami rugi US$1,275 miliar (2013: rugi US$609,01 juta dan US$666,21 juta). Kerugian dalam 2 tahun membuat BUMI mengalami defisiensi modal sebesar US$492,65 di tahun 2013.

Untuk kali kedua BUMI pun berusaha restrukturisasi hutang-hutangnya. Namun untuk restrukturisasi kali ini BUMI menggunakan cara re-organisasi modal, penjualan aset serta penambahan modal melalui rights issue (penawaran umum terbatas / PUT). Reorganisasi modal dan penjualan aset telah dilakukan melalui penjualan atas 19% kepemilikannya di PT Kaltim Prima Coal (KPC) kepada CFL (Country Forest Limited) dengan harga US$950.000.000. Penjualan ini menurunkan kepemilikan BUMI di KPC 65% menjadi 51% setelah memperhitungkan penyelesaian atas wesel tagih sebesar USD254.026.670 pada tanggal 30 Juni 2014 merupakan Medium Term Notes (MTN) tanpa bunga yang diterbitkan oleh PT Kutai Timur Sejahtera kepada BUMI sebagai penyelesaian sementara atas dana investasi dari PT Recapital Asset Management. Wesel tagih tersebut telah diselesaikan dengan cara mengalihkan MTN yang diterbitkan oleh PT KTS menjadi kepemilikan atas 5% saham PT KPC.

Selain itu, BUMI juga menjual (dengan memberikan put dan call options) 10.739.463.720 lembar saham Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang setara dengan 42% modal saham BRMS, kepada CFL dengan harga US$257.400.000. Dari penjualan atas kepemilikan PT Kaltim Prima Coal dan BRMS ini BUMI memperoleh Laba atas pelepasan Investasi pada anak usaha sebesar US$754.607.427 sehingga BUMI berhasil memperoleh Laba Bersih sebesar US$168.018.353 di Semester I 2014.

Kemudian di bulan Jul 2014, BUMI melakukan penerbitan saham melalui PUT IV dalam rangka penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dengan ratio 20 saham lama memperoleh 31 HMETD dengan harga pelaksanaan Rp250,-. Pada PUT ini BUMI berhasil memperoleh dana sebesar Rp3.963.405.106.750 atau setara US$330.283.759 dengan kurs Rp12.000,- (jumlah saham yang diterbitkan 15.853.620.427 lembar atau 49,24% dari seluruh dari jumlah saham yang rencana akan diterbitkan dalam PUT IV, yakni sebanyak 32.198.770.000 lembar). Dana tersebut sebesar US$150.000.000 akan digunakan untuk membayar utang CFL. Transaksi-transaksi ini dilakukan dalam rangka menyelesaikan sisa pokok hutang CFL sebesar USD1,3 miliar sesuai dengan perjanjian Master Deed yang dibuat pada 8 Oktober 2013.

Setelah berhasil menyelasaikan utang CFL sebesar USD1,3 miliar, sekarang ini BUMI kembali diterpa masalah utang pada anak usahanya yang mencapai US$1,375 miliar. Saat ini, anak-anak usaha BUMI yang mempunyai masalah utang antara lain: Bumi Capital Pte. Ltd. (penerbit Surat Berharga Bergaransi Senior (Guaranteed Senior Secured Notes) senilai 300 juta Dolar AS berkupon 12%), Bumi Investment Pte. Ltd. (penerbit Surat Berharga Bergaransi Senior (Guaranteed Senior Secured Notes) senilai 700 juta Dolar AS berkupon 10,75%) dan Enercoal Resources Pte. Ltd. (penerbit Obligasi Konversi Bergaransi (Guaranteed Convertible Bonds) senilai 375 juta Dolar AS berkupon 9,25%).

Apakah untuk kali ini BUMI bisa berhasil melewati krisis yang disebabkan turunnya harga komoditi (batubara) yang dimulai sejak pertengahan Jul 2012?, menurut kita kalau harga komoditi dalam 1 atau 2 tahun tidak membaik, kemungkinan BUMI akan sulit melewati krisis yang tengah menerpanya saat ini. Hal ini sebabkan masih tingginya beban keuangan BUMI, dimana per 30 Juni 2014 total utang BUMI tercatat US$7.007.408.859 (setara Rp84.088.906.308.000,- dengan kurs Rp12.000,-) sedangkan total aset hanya sebesar US$6.764.902.225.

Grafik Harga Saham BUMIGrafik Harga Saham BUMI

Bagaimana nasib BUMI ke depan? apakah akan pailit atau tetap bisa mempertahankan kelangsunga hidup perusahaannya? ya…. tunggu waktu yang membuktikan aja!!!!

Bagaimana nasib investor yang terlanjur membeli saham BUMI diharga tinggi? ya… pasrah dan berdoa!!!

Pesan untuk semua investor, berhati-hatilah dalam berinvestasi!!! jangan cuma memikirkan untungnya saja!!! tapi juga harus diingat semua investasi selalu memiliki resiko!!!

Related posts