Penawaran Umum Perdana (IPO) Saham PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA)

Banner Image

britama.com, Penawaran Umum Perdana (IPO / Initial Public Offering) Saham PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA) dilakukan oleh PT Artha Sekuritas Indonesia (SH) selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek dan Penjamin Emisi Efek menjamin dengan kesanggupan penuh (full commitment) terhadap Penawaran Umum Perdana Saham ini.

Adapun Jadwal Penawaran Umum Perdana Saham sebagai berikut:

Temukan Pilihan Terbaikmu!
  • 28 Maret 2024: Efektif
  • 02 – 04 April 2024: Masa Penawaran Umum
  • 04 April 2024: Tanggal Penjatahan
  • 05 April 2024: Distribusi Saham dan Waran Seri I Secara Elektronik
  • 16 April 2024: Pencatatan Saham dan Waran Seri I di BEI
  • 10 April 2025: Akhir Perdagangan Waran Seri I Pasar Reguler & Negosiasi
  • 14 April 2025: Akhir Perdagangan Waran Seri I Pasar Tunai
  • 16 Oktober 2024 – 15 April 2025: Masa Pelaksanaan Waran Seri I
  • 15 April 2025: Akhir Masa Berlaku Waran Seri I

PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk menawarkan sebanyak 1.200.000.000 lembar saham baru atau sebanyak 19,36% dari jumlah modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah Penawaran Umum Perdana (IPO) dengan Nilai Nominal Rp8,- dan Harga Penawaran sebesar Rp100,- per saham. Jumlah seluruh nilai Penawaran Umum Perdana Saham ini adalah sebanyak Rp120.000.000.000,-.

Selain itu, PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk juga akan menerbitkan sebanyak 1.740.000.000 lembar Waran Seri I dengan rasio pembagian setiap pemegang 20 saham baru berhak atas 29 Waran Seri I, dimana setiap 1 waran memberikan hak untuk membeli 1 saham baru dengan harga pelaksanaan sebesar Rp300,- per saham. Nilai hasil pelaksanaan Waran Seri I adalah sebanyak-banyaknya Rp522.000.000.000,-.

Seluruh dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum, setelah dikurangi biaya-biaya emisi yang terkait dengan Penawaran Umum akan digunakan seluruhnya oleh PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk untuk, sebagai berikut:

  1. Sekitar 43,52% untuk pembelian peralatan guna menunjang kegiatan operasional, dengan rincian sebagai berikut:
    • 4 unit C-NAV X1 System, yang berfungsi untuk menerima sinyal dari satelit GPS, Galileo, dan GLONASS untuk kemudian sinyal tersebut diolah menjadi data yang mendefinisikan posisi dari suatu objek (seperti kapal, rig, atau pipa di laut lepas) dengan nilai akurasi yang sangat tinggi.
    • 2 unit AML-1, SV Probe, yang berfungsi sebagai sensor yang mampu mengidentifikasi kecepatan suara saat merambat di dalam medium air. Sensor ini diperlukan untuk mengkoreksi data yang direkam oleh Multibeam Echo Sounder sehingga tiada kesalahan perambatan suara.
    • 4 unit SMC 108-30, yang berfungsi untuk menentukan orientasi objek relatif terhadap kerangka acuan inersia atau benda lain. Umumnya disebut sebagai motion sensor. Motion sensor ini menggunakan 3 accelerometers and 3 gyroscopes yang diintegrasikan dengan Digital Signal Processor, untuk menghasilkan informasi pitch dan rolland heave yang akurat dalam format standar industri.
    • 2 unit SMC 106, yang berfungsi untuk menentukan orientasi objek relatif terhadap kerangka acuan inersia atau benda lain. Umumnya disebut sebagai motion sensor. Motion sensor ini menggunakan 3 accelerometers and 3 gyroscopes yang diintegrasikan dengan Digital Signal Processor, untuk menghasilkan informasi pitch dan rolland heave yang akurat dalam format standar industri.
    • 2 unit R2Sonic I2NS Inertial Navigation System Typpe III (OEM POS//MV SurfMaster), yang berguna untuk memberikan referensi geografis dalam survey hidrografi. I2NS sangat diperlukan untuk mendapatkan nilai roll, pitch, heave, heading, posisi, dan kecepatan kapal dengan akurasi yang tinggi.
    • 2 unit R2Sonic 2026, yang berfungsi sebagai sensor pemeruman yang mampu mengumpulkan data kedalaman dalam cakupan yang luas dalam waktu singkat sehingga profil dari dasar laut dapat dipetakan secara efektif dan efisien. Sensor ini menggunakan metode akustik (memanfaatkan gelombang suara) dalam proses akuisis data.
    • 2 unit Klein 4K-SVY, yang berfungsi sebagai sensor side scan sonar yang membantu dalam mendapatkan citra dasar laut dengan cara kerja menyapu area yang dilalui sensor dengan tingkat akurasi tinggi.
    • 2 unit Geometrics G-882SX Marine Cesium Magnetometer, merupakan alat yang digunakan untuk mendeteksi dan memetakan objek metal di bawah air, seperti jangkar, rantai, kabel, pipa, batu ballast, dan puing-puing kapal tercecer lainnya, amunisi dari semua ukuran (UXO), pesawat, mesin, dan objek lainnya dengan ekspresi magnetik. Alat ini juga dapat digunakan untuk studi geologi, karakterisasi tanda magnetik bumi, dan survei profesional di perairan dangkal atau dalam.
    • 2 unit Geometrics Umbilical Piggyback, merupakan kabel data water proof yang tidak hanya berfunsi untuk menarik alat-alat yang dipasang di belakang kapal seperti side scan sonar atau magnetometer, tetapi juga berfunsi untuk transfer data.
    • 2 unit Sonarwiz Doest It All, yang berfungsi sebagai perangkat pengolahan data Side Scan Sonar diharapkan dapat memberikan gambaran nyata citra dasar laut sehingga dapat meningkatkan kinerja dari pelaksanaan survei Side Scan Sonar.
    • 2 unit Kongsberg Topas PS 120, merupakan alat yang digunakan untuk profil sub-bottom. Alat ini menghasilkan gambaran lapisan sedimen di bawah dasar laut dengan resolusi yang sangat tinggi. Alat ini dapat digunakan untuk memetakan lapisan sedimen di bawah dasar laut dengan kedalaman antara 3 hingga 400 meter.
    • 2 unit Sonardyne Origin 600, yang berfungsi sebagai sensor yang mampu melakukan perekaman data arus secara real time dan bisa dioperasikan dari jarak jauh sehingga datanya bisa langsung dimanfaatkan untuk kepentingan lanjutan terutama dalam proses konstruksi. Alat ini menggunakan efek doppler sebagai landasan.
    • 2 unit Sonardyne Ranger 2 System 4000 meter, merupakan sistem penentuan posisi akustik Ultra-Short BaseLine (USBL) tingkat survei yang menghitung posisi target bawah laut, misalnya ROV, dengan mengukur jangkauan dan arah dari transceiver yang dipasang di kapal ke transponder akustik yang dipasang pada target.
    • 16 unit Sonardyne WSM6+ 8370 Directional Transponder, merupakan alat yang digunakan untuk menentukan posisi objek bawah air seperti ROV, towfish, dan target bergerak lainnya di kedalaman air hingga 4.000 meter. Alat ini mendukung sinyal Wideband 2, yang menawarkan akurasi jangkauan superior dan pembaruan posisi USBL yang cepat. Alat ini juga dilengkapi dengan sensor kedalaman dan saklar on/off eksternal untuk menghemat daya baterai ketika tidak digunakan 1. WSM6+ 8370 juga dapat dikonfigurasi untuk digunakan dengan semua sistem navigasi akustik frekuensi MF populer.
    • 8 Sonardyne WSM6+ Comms/Charger Assembly 5-way, yang berfungsi sebagai sensor pemeruman yang mampu mengumpulkan data kedalaman dalam cakupan yang luas dalam waktu singkat sehingga profil dari dasar laut dapat dipetakan secara efektif dan efisien. Sensor ini menggunakan metode akustik (memanfaatkan gelombang suara) dalam proses akuisis data.
  2. Sedangkan sisanya untuk modal kerja seperti biaya instalasi peralatan (biaya sewa peralatan, biaya dukungan teknis, pekerjaan pengawasan dan supervisi teknis), biaya tenaga ahli, biaya penelitian dan survei, biaya perlengkapan survei, biaya transportasi dan akomodasi, biaya pemeliharaan, biaya sewa, gaji karyawan dan lain-lain.

Sedangkan dana yang diperoleh dari pelaksanaan Waran Seri I, jika dilaksanakan oleh pemegang waran akan digunakan untuk modal kerja yaitu biaya instalasi peralatan (biaya sewa peralatan, biaya dukungan teknis, pekerjaan pengawasan dan supervisi teknis), biaya tenaga ahli, biaya penelitian dan survei, biaya perlengkapan survei, biaya transportasi dan akomodasi, biaya pemeliharaan, biaya sewa, gaji karyawan dan lain-lain.

PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk didirikan pada tanggal 22 November 2016 dan berlokasi di Jl.Tebet Barat Dalam Raya No.6, Jakarta Selatan 12810, Indonesia. Saat ini, kegiatan utama PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk adalah menjalankan usaha di bidang survei dan layanan untuk Perusahaan energi.

Sebelum Penawaran Umum Perdana (IPO), saham PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk dimiliki oleh Rudi Reksa Sutantra (63,00%), Yophi Kurniawan Iswanto (21,00%), Denny Ray Hendra (6,00%), Hendry Widjaja (6,00%) dan Tomas Gunawan (4,00%).

Banner Image